SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

Showing posts with label Askep Lengkap. Show all posts
Showing posts with label Askep Lengkap. Show all posts

Sunday, 4 January 2015

Makalah Striktur Uretra

 


Striktur Uretra adalah  penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan perut dan kontaksi
(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468). striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada 
wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra
(C. Long, Barbara ;1996 hal 338)

Untuk makalah lengkapnya silahkan Download di Bawah ini 


Wednesday, 31 December 2014

Asuhan Keperawatan Jiwa HDR (Harga Diri Rendah)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perubahan-perubahan sosial yang serba cepat (rapid social cange) sebagai konsekuensi modernisasi. Industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempengaruhi nilai-nilai moral etika dan gaya hidup (value sistem and way of laife). Tidak semua orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut diatas yang pada gilirannya yang bersangkutan dapat jatuh sakit, atau mengalami gangguan penyesuaian diri (adjustment disorder).
Perubahan-perubahan tat nilai kehidupan yang seringkali juga disebut perubahan-perubahan psikososial antara lain dapat dilihat dari hal-hal yang berikut ini, yaitu :
1.                            Pola hidup mayarakat dari yang semula sosial religius cenderung kearah pola kehidupan masyarakat individual, materialistis dan sekuler.
2.                            Pola hidup sederhana dan produktif cenderung kearah pola hidup mewah dan konsumtif.
3.                            Struktur keluarga yang semula keluarga besar (extended family) cenderung kearah keluarga inti (nuclear family), bahkan sampai pada keluarga tunggal (single parent family).
4.                            Ambisi karier dan materi yang sebelumnya menganut azas-azas hukum dan moral serta etika, cenderung berpola tujuan menghalalkan segala cara ; misalnya dengan melakukan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).
Dari jaman purbakala sebenarnya sudah terdapat tanda-tanda yang menunjukan bahwa manusia telah mengenal tentang gejala-gejala gangguan jiwa. Sejak saat pembuahan, seorang manusia merupakan satu kesatuan badan dan jiwa yang tidak dapat dipisahkan. Bila terganggu maka akan bereaksi adalah manusia secara keseluruhan, bukan hanya badannya atau jiwanya saja. Jadi dapat di katakan bahwa badan dan jiwa bukanlah kesatuan yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan aspek-aspek manusia yang digambarkan untuk memudahkan komunikasi.
1.2  Tujuan Penulisan
            Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untukmemnuhi salah satu tugas mata kuliah jiwa 1 dan untuk mengidentifikasi gejala-gejala dari gangguan jiwa pada pasien harga diri rendah dan untuk mengintervensi proses keperawatan yang seharusnya dilakukan pada klien gangguan jiwa.
1.3  Metoda Penulisan
Metoda penulisan dari makalah ini yaitu dengan mengambil literatur kepustakaan yang ada kaitannya dengan klien gangguan jiwa khususnya harga diri rendah (HDR).



Untuk Makalah Lengkapnya Silahkan Klik Download Dibawah

Makalah Kondiloma Akuminata




Kutil kelamin atau Kondilomata Akuminata akhir-akhir ini semakin  meningkat.
Kondiloma akuminata adalah:
1. Tumor pada genitalia yang bersifat lunak seperti jengger ayam
    dan tidak nyeri.
2. Pertumbuhan jaringan yang bersifat jinak, superfisial, terutama
    di daerah genitalia (kelamin).


PENYEBAB
Virus DNA golongan Papovavirus, yaitu: Human Papilloma Virus (HPV).
HPV tipe 6 dan 11 menimbulkan lesi dengan pertumbuhan (jengger ayam).
HPV tipe 16, 18, dan 31 menimbulkan lesi yang datar (flat).
HPV tipe 16 dan 18 seringkali berhubungan dengan karsinoma genitalia (kanker ganas pada kelamin)
Terdapat papul atau tumor (benjolan), dapat soliter (tunggal) atau multipel (banyak) dengan permukaan yang verukous atau mirip jengger ayam. Terkadang penderita mengeluh nyeri.
Jika timbul infeksi sekunder berwarna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak sedap.
 
Untuk Makalah Lengkapnya Silahkan Klik Download Dibawah


  DOWNLOAD Via Dropbox 

  
DOWNLOAD Via Ziddu


Friday, 26 December 2014

Askep CHF







CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF)

1. KONSEP DASAR MEDIS

A. Definisi


Congestive Heart Failure (CHF) /gagal jantung adalah keadaan patofisiologik di mana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan.


B. Etiologi

Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung congenital maupun didapat.
Keadaan-keadaan yang menyebabkan gagal jantung:

a. Kelainan otot jantung
Gagal jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup arteriosklerosis koroner, hipertensi aterial dan penyakit otot degeneratif atau inflamasi.

b. Arteriosklerosis Koroner
Mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung.

c. Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatan after load)
Meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertropi serabut otot jantung efek hipertropi miokard dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan mengakibatkan kontraktilitas jantung. Tetapi untuk alasan yang tidak jelas, hipertropi otot jantung tidak dapat berfungsi secara normal dan akhirnya terjadi gagal jantung,

d. Peradangan dan penyakit miokardium degeneratif
Berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung menyebabkan kontraktilitas menurun.

e. Penyakit jantung lain
Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme yang biasanya terlibat mencakup: gangguan aliran darah melalui jantung (misal: stenosis katup semiluner), ketidakmampuan katup umum mengisi darah (misal perikarditas konstritif atau stenosis katup Av)

f. Faktor sistemik
Terdapat sejumlah faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (misal: demam tindoksikosis denanemia) meningkatnya curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik, juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis dan abnormalitas elektrolit dapat menurunkan kontraktilitas jantung.

C. Manifestasi Klinik

a. Dispneu atau perasaan sulit bernafas
Ini disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan akibat kongesti vaskuler paru-paru yang mengurangi kelenturan paru-paru
b. Dispnoe pada saat berbaring
Disebabkan oleh redistribusi aliran darah dan bagian-bagian tubuh yang di bawah ke arah sirkulasi sentral.
c. Dispnoe nocturnal paroksismal atau mendadak terbangun karena dispnoe, dipacu oleh perkembangan edema paru-paru interstitial
d. Batuk non produktif terjadi sekunder dari kongesti paru-paru terutama pada posisi berbaring.
e. Ronchi akibat transudasi cairan paru-paru
f. Demam ringan dan keringat yang berlebihan akibat dari vasokontriksi kulit menghambat kemampuan tubuh untuk melepas panas.
g. Kulit pucat, vasokontriksi perifer akibatnya darah dialihkan dari organ-organ non vital demi mempertahankan fungsi ke jantung, otak, dan lain-lain.
h. Sianosis  akibat penurunan lebih lanjut dari curah jantung dan meningkatkan kadar Hb terdeteksi.
i. Kelemahan dan keletihan akibat perfusi yang kurang dari otot-otot rangka
j. Bunyi gallop ventrikel atau S3  terdengar/terjadi selama diastolik awal dan disebabkan oleh pengisian cepat pada ventrikel yang tidak luntur
k. Pada ECHO  jantung membesar (cardiomegali)

D. Penatalaksanaan Medik

Tujuan dasar penatalaksanaan medik gagal jantung adalah sebagai berikut:
a. Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung
b. Manfaatkan kekuatan dan ekstensi kontraksi jantung dengan bahan-bahan farmakologis.
c. Menghilangkan penimbunan cairan tubuh berlebihan dengan terapi diuretic, diet dan istirahat
Terapi farmakologis:
- Glikosida jantung dan digitalis
- Diuretik
- vasodilator

E. Komplikasi

- Syok kardiogenik
- Episode tramboemboli
- Efusi dan tamponade perikardium

2. ASUHAN KEPERAWATAN

A. Riwayat Keperawatan

a. Aktivitas/istirahat
Gejala : keletihan/kelelahan terus-menerus sepanjang hari
Insomnia, nyeri dada dengan aktivitas
Dispnea pada istirahat atau pada pengerahan tenaga
Tanda : gelisah, perubahan status mental, misal: letargi
Tanda vital berubah pada aktivitas

b. Sirkulasi
Gejala : riwayat hipertensi, infark miokard baru/akut, episode gagal jantung kronik sebelumnya, penyakit katup jantung, bedah jantung, endokaritis, SLE, anemia, syok septik, bengkak pada kaki, telapak kaki, abdomen.
Tanda : TD: mungkin rendah (gagal pemompaan); norma (GJK ringan atau kronis) atau tinggi (kelebihan beban cairan/peningkatan TVS)
Tekanan nadi: mungkin sempit, menunjukkan penurunan volume sekuncup frekuensi jantung: takikardia (gagal jantung kiri)
Irama jantung: disritmia
Bunyi jantung: S3 (gallop), S4 dapat terjadi, S1 dan S2 mungkin melemah murmur sistolik dan diastolik dapat menandakan adanya stenosis katup atau insufisiensi.
Warna: pucat, sianotik
Punggung kuku: pucat atau sianotik dengan pengisian kapiler lambat
Hepar: pembesaran/dapat teraba, refleks hepatojugularis
Bunyi nafas: kreker, ronchi
Edema: mungkin dependen, umum atau pitting, khususnya pada ekstremitas, DVJ

c. Integritas ego
Gejala : ansietas, khawatir, takut
Stress yang berhubungan dengan penyakit/keprihatinan finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis)
Tanda : berbagai manifestasi perilaku, misal: ansietas, marah, ketakutan, mudah tersinggung.

d. Eliminasi
Gejala : penurunan berkemih, urine berwarna gelap
Berkemih malam hari (rakturia)
Diare/konstipasi

e. Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual/muntah
Penambahan berat badan signifikan
Pembengkakan pada ekstremitas bawah, pakaian/sepatu terasa sesak
Diet tinggi garam/makanan yang telah diproses, lemak, gula dan kafein penggunaan diuretic.
Tanda : penambahan berat badan cepat
Distensi abdomen (asites), edema (umum, dependen, tekanan, pitting)

f. Hygiene
Gejala : keletihan/kelemahan, kelelahan selama aktivitas perawatan diri
Tanda : penampilan menandakan kelalaian perawatan personal

g. Neurosensori
Gejala : kelemahan, pening, episode pingsan
Tanda : letargi, kusut pikir, disorientasi
Perubahan perilaku, mudah tersinggung

h. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri dada, angina akut atau kronis
Nyeri abdomen kanan atas, sakit pada otot
Tanda : tidak tenang, gelisah
Fokus menyempit (menarik diri), perilaku melindungi diri

i. Pernafasan
Gejala : dispnea saat aktivitas, tidur sambil duduk, atau dengan beberapa bantal.
Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum
Riwayat penyakit paru kronis
Penggunaan penyakit paru kronis
Penggunaan bantuan pernafasan, misal: oksigen atau medikasi
Tanda : pernafasan: takipnea, nafas dangkal, pernafasan labored: penggunaan otot aksesori pernafasan, hasal faring
Batuk: kering/nyaring/non produktif atau mungkin batuk terus-menerus dengan/tanpa pembentukan sputum
Sputum: mungkin bersemu darah, merah mudah/berbuih (edema pulmonal)
Bunyi nafas: mungkin tidak terdengar, dengan krakles basilar dan mengi
Fungsi mental: mungkin menurun, letargi, kegelisahan
Warna kulit: pucat atau sianosis

j. Keamanan
Gejala : perubahan dalam fungsi mental
Kehilangan kekuatan/tonus otot
Kulit lecet

k. Interaksi sosial
Gejala : penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan

l. Pembelajaran/pengajaran
Gejala : menggunakan/lupa menggunakan otot-otot jantung, misal: penyekat saluran kalsium
Tanda : bukti tentang ketidakberhasilan untuk meningkatkan

B. Pemeriksaan Fisik

Pengkajian data fokus:
Sistem pernafasan
- Hidung simetris kiri dan kanan
- Tidak terdapat pernafasan cuping, tidak terdapat sekret pada hidung
- Pembesaran kelenjar leher tidak ada
- Dada: bentuk bulat, gerakan dada simetris kiri/kanan
- Bunyi nafas bronchovesikuler
Sistem kardiovaskuler
- Konjungtiva tidak anemis, bibir sianosis
- Arteri corotis teraba
- Vena jugularis setinggi clavikula
- Suara jantung tambahan: S3 dan S4

C. Test Diagnostik

a. EKG: hipertropi atrial atau ventricular, penyimpangan aksis, iskemia dan kerusakan pola mungkin terlihat. Disritmia, kenaikan segmen ST/T persisten 6 minggu atau lebih setelah infark miokard menunjukkan adanya aneurisma ventrikular.
b. Sonogram (ekokardiogram, ekokardiogram dopple): dapat menunjukkan dimensi perbesaran bilik, perubahan dalam fungsi/struktur katup atau area penurunan kontraktilitas ventrikular.
c. Scan jantung: (multigated acquisition (MUGA): tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding
d. Kateterisasi jantung: tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan versus sisi kiri, dan stenosis katup atau insufisiensi.
e. Roentgen dada: dapat menunjukkan pembesaran jantung, bayangan mencerminkan dilatasi/hipertrofi bilik, atau perubahan dalam pembuluh darah mencerminkan peningkatan pulmonal.
f. Enzim hepar: meningkat dalam gagal/kongesti hepar
g. Elektrolit: mungkin berubah karena perpindahan cairan/penurunan ginjal, terapi diuretic
h. AGD: gagal ventrikel kiri ditandai dengan respiratorik ringan (dini) atau hipoksemia dengan peningkatan pCO2 (akhir)
i. BUN, kreatinin: peningkatan BUN menandakan penurunan perfusi ginjal
j. HSD: mungkin menunjukkan anemia, polisitemia, atau perubahan kepekatan menandakan retensi air
k. Kecepatan sedimentasi (ESR): mungkin meningkat, menandakan reaksi inflamasi akut

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan kontraktilitas miokardial ditandai dengan:
- Takikardia, disritmia, perubahan gambaran pola EKG
- Hipotensi/hipertensi
- Bunyi jantung ekstra (S3, S4)
- Penurunan haluaran urine
- Nadi perifer tidak teraba
- Kulit dingin, kusam, diaforesis
- Ortopnea, krakles, JVD, perbesaran hepar, edema, nyeri dada
Tujuan: menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (distrimia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung

Intervensi:
a. Auskultasi nadi perifer
Rasional : biasanya terjadi takikardia
b. Catat bunyi jantung
Rasional : irama galkop umum S3 dan S4 dihasilkan sebagai aliran darah ke dalam serambi yang distensi
c. Palpasi nadi perifer
Rasional : penurunan curah jantung dapat menunjukkan turunnya nadi radial, popliteal, dorsalis pedis dan posubial
d. Pantau tekanan darah
Rasional : pada CHF lanjut tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi dan hipotensi tak dapat normal lagi
e. Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis
Rasional : pucat menunjukkan turunnya perfusi perifer, sianosis dapat terjadi sebagai refraktori
f. Pantau haluaran urine
Rasional : ginjal berespon untuk menurunkan curah jantung dengan menahan cairan dan natrium
g. Berikan istirahat psikologi dengan lingkungan tenang: menjelaskan manajemen medik/keperawatan, membantu pasien menghindari stres
Rasional : stres emosi menghasilkan vasokontriksi yang meningkatkan tekanan darah, dan meningkatkan frekuensi/kerja jantung
h. Berikan obat sesuai indikasi
Rasional : dengan pemberian obat dapat meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen/kebutuhan, kelemahan umum, tirah baring lama/immobilisasi ditandai dengan:
- Kelemahan, kelelahan
- Perubahan tanda vital, adanya disritmia
- Dispnea, pucat, berkeringat
Tujuan: klien berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan, memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri dengan kriteria
Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur, dibuktikan menurunnya kelemahan dan kelelahan dan tanda vital dalam batas normal selama aktivitas.

Intervensi:
a. Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas, khususnya bila pasien menggunakan vasodilator, diuretik, penyekat beta.
Rasional : Hipotensi ortostarik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilatasi), perpindahan cairan (diuretik atau pengaruh fungsi jantung.
b. Carat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat disritmia. dispnea. berkeringat, pucat.
Rasional : Penurunan atau ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas, dapat menyebabkan peningkatan segera pada frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen, juga peningkatan kelelahan dan kelemahan.
c. Kaji prespirator/penyebab kelemahan contoh pengobatan, nyeri, obat
Rasional : Kelemahan adalah efek samping beberapa obat. Nyeri dan program penuh stres juga memerlukan energi dan menyebabkan kelemahan.
d. Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas
Rasional : Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas.
e. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi. Selingi periode aktivitas dengan periode istirahat,
Rasional : Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien tanpa mempengaruhi stres miokard/kebutuhan oksigen berlebihan.
f. Implementasikan program rehabilitasi jantung/aktivitas.
Rasional : Peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan. Penguatan dan perbaikan fungsi jantung di bawah stres, bila disfungsi jantung tidak dapat membaik kembali.

3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah jantung)/meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium/air ditandai dengan:
- Ortopnea, bunyi jantung S3
- Oliguria, edema, DVJ, refleks hepatojugular positif
- Peningkatan berat badan, hipertensi
- Distres pernafasan, bunyi jantung abnormal
Tujuan: mendemonstrasikan volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran, bunyi nafas bersih/jelas, tanda vital dalam rentang yang dapat diterima, berat badan stabil dan tidak ada edema.

Intervensi:
a. Pantau haluaran urine, catat jumlah dan warna saat hari di mana diuresis terjadi.
Rasional : Haluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi ginjal.
b. Pantau/hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam.
Rasional : Terapi diuretik dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-tiba/berlebihan (hipovolemia) meskipun edema atau asites masih ada.
c. Pertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semi Fowler selama fase akut.
Rasional : Posisi telentang meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuresis.
d. Buat jadwal pemasukan cairan
Rasional : Melibatkan pasien dalam program terapi.
e. Timbang berat badan tiap hari
Rasional : Catat ada atau tidak hilangnya edema sebagai respons terhadap terapi
f. Kaji distensi leher dan pembuluh perifer. Lihat area tubuh dependen untuk edema dengan atau tanpa pitting; catat adanya edema tubuh umum (anasarka).
Rasional : Retensi cairan berlebihan dapat dimanifestasikan oleh pembendungan vena dan pembentukan edema. Edema perifer mulai pada kaki atau mata kaki. Edema pitting adalah gambaran secara umum hanya setelah retensi.
g. Auskultasi bunyi napas, catat penurunan dan/atau bunyi tambahan
Rasional : Kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti paru
h. Pantau TD dan CVP
Rasional : Hipertensi dan peningkatan CVP menunjukkan kelebihan volume cairan dan dapat menunjukkan terjadinya peningkatan kongesti paru, gagal jantung.
i. Pemberian obat sesuai indikasi
Rasional : dengan pemberian obat yang benar akan membantu proses penyembuhan.

4. Risiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-alveolus.
Tujuan: Mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA/oksimetri dalam rentan normal dan bebas gejala distress pernafasan

Intervensi:
a. Auskultasi bunyi napas, catat krekels, mengi.
Rasional : menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan sekret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lanjut.
b. Anjurkan pasien batuk efektif, napas dalam
Rasional : Membersihkan jalan napas dan memudahkan aliran oksigen.
c. Dorong perubahan posisi sering.
Rasional : membantu mencegah atelektasis dan pneumonia.
d. Pertahankan duduk di kursi/tirah baring dengan kepala tempat tidur tinggi 20-30 derajat, posisi semi Fowler. Sokong tangan dengan bantal.
Rasional : menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan dan meningkatkan inflamasi paru maksimal
e. Pantau/gambarkan seri GDA, nadi oksimetri.
Rasional : Hipoksemia dapat menjadi berat selama edema paru. Perubahan kompensasi biasanya ada pada GJK kronis.
f. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
Rasional : Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang dapat memperbaiki/menurunkan hipoksemia jaringan.
g. Berikan obat sesuai indikasi
Rasional : membantu proses penyembuhan .

5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/ penyakit/gagal ditandai dengan:
- Pertanyaan
- Pernyataan masalah/kesalahan persepsi
- Terulangnya episode GJK yang dapat dicegah
Tujuan: mengidentifikasi hubungan terapi (program pengobatan) untuk menurunkan episode berulang dan mencegah komplikasi

Intervensi:
1. Diskusikan fungsi jantung normal, meliputi informasi sehubungan dengan perbedaan pasien dari fungsi normal. Jelaskan perbedaan antara serangan jantung dan GJK
Rasional : pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan
2. Kuatkan rasional pengobatan
Rasional : pemahaman program, obat dan pembatasan dapat meningkatkan kerjasama untuk mengontrol gejala.
3. Diskusikan pentingnya menjadi seaktif mungkin tanpa menjadi kelelahan, dan istirahat di antara aktivitas.
Rasional : Aktivitas fisik berlebihan dapat berlanjut menjadi melemahkan jantung, eksaserbasi kegagalan.
4. Diskusikan obat, tujuan dan efek samping. Berikan instruksi secara verbal dan tertulis.
Rasional : Pemahaman kebutuhan terapeutik dan pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah terjadinya komplikasi obat.
5. Anjurkan makan diet pada pagi hari.
Rasional : Memberikan waktu adekuat untuk efek obat sebelum waktu tidur untuk mencegah/membatasi menghentikan tidur.
6. Jelaskan dan diskusikan peran pasien dalam mengontrol faktor risiko dan faktor.
Rasional : Menambahkan pada kerangka pengetahuan dan memungkinkan pasien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi sehubungan dengan kontrol kondisi dan mencegah berulang/komplikasi.
7. Bahas ulang tanda/gejala yang memerlukan perhatian medik cepat, contoh edema, demam, hemoptisis.
Rasional : Pemantauan sendiri meningkatkan tanggung jawab pasien dalam pemeliharaan kesehatan dan mencegah komplikasi.
8. Berikan kesempatan pasien/orang terdekat untuk bertanya.
Rasional : Kondisi kronis dan berulang/menguatnya kondisi GJK sering melemahkan kemampuan koping dan kapasitas dukungan pasien dan orang terdekat.
9. Tekankan pentingnya melaporkan tanda/gejala toksisitas digitalis.
Rasional : Pengenalan dini terjadinya komplikasi dan keterlibatan pemberi perawatan dapat mencegah toksisitas/perawatan di rumah sakit.


DAFTAR PUSTAKA


Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Ed.3.EGC. Jakarta.

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Ed. 3 Jilid 1. Media Aesculapius. Jakarta.

Thursday, 25 December 2014

Askep Gastritis

SMK MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU



BAB I
LANDASAN TEORITIS
         I.              Konsep Dasar Medis
     1.1.  Defenisi
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung. Secara hidropaotologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut. Gastritis merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai di klinik penyakit dalam pada umumnya. Secara garis besar, gastritis dapat dibagi berdasarkan beberapa macam berdasarkan pada :
  1)      Manifestasi klinis
  2)      Gambaran kistologi yang khas
  3)      Distribusi anatomi, dan
  4)      Kemungkinan fatogenesis pada manifestasi klinis.
Gastritis dapat juga dibagi menjadi akut dan kronik, harus diingat bahwa walaupun dilakukan pembagian menjadi akut dan kronik, tetapi keduanya tidak sering berhubungan. Gastritis kronik bukan merupakan kelanjutan gastritis akut.
                                                mukosa gaster
                                         ↓
           楲敢                                  Erosi pada mukosa lambung
                                               ↓
                                                Perdarahan
1.4 Manifestasi Klinis
Sindrom dyspepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa hematonesis dan melena. Kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya jika dilakukan anamnese lebih dalam terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia tertentu.
1.5 Penatalaksanaan medis
  -          Menghindari alcohol dan makanan yang merangsang sampai gejala berkurang
  -          Diet mengandung gizi bila pasien mampu makan melalui mulut
  -          Berikan cairan intra vena
  -          Bila akibat asam → menetralisir dengan antasida (aluminium hodroksida)
  -          Bila akibat alkali → menetralisis alkali dengan jus lemon encer dan cuka encer
  -          Bila korosi luas atau berat → hindari emetic dan lavage →bahaya perforasi
  -          Modifikasi diet, istirahat, reduksi stress, dan farmakologi.
1.6 Pemeriksaan Diagnostik
  a.       Pemeriksaan Analisa Gaster
  b.       Pemeriksaan Angiogarfi
  c.        Pemeriksaan Amilase Serum
  d.      EGD (Esofagogastriduodenoskopy)
  e.       Minum Barium dengan Foto Rontgen

II. Konsep Dasar Keperawatan
2.1  Pengkajian
2.1.1 Aktifitas/istirahat
Gejala     : Kelemahan, kelelahan
Tanda     : Takikardia, takipnea, hiperventilasi (respon terhadap aktifitas)
            2.1.2   Sirkulasi
               Gejala :Hipotensi (termasuk postural).Takikardia, distripnea (hipovolemia/hipoksemia) Kelemahan atau nadi perifer Pengisian kapiler lemah atau berlahan (vasokonstriksi) Warna kulit : pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah) Kelemahan kulit atau membran mukosa
            2.1.3   Integritas Ego
              Gejala : Faktor stress akut atau kronis (keungan atau hubungan kerja) perasaan tak berdaya
              Tanda  : Ansietas, misalnya : gelisah, pucat, berkeringat, perhatian menyempit, gemetar, suara gemetar.
             2.1.4         Eliminasi
            Gejala : Riwayat perawatan dirumah sakit sebelumnya karena perdarahan gastroenteritis (GI) atau masalah  yang berhubungan dengan Gi.
Tanda : Nyeri tekan abdomen, istensi bunyi usus sering hiperaktif selam perdarahan, Karakteristik feses, diare darah warna  gelap, kecoklatan atau kadang-kadang warna cerah berbusa, bau busuk


               (steatorea). Konstifasi dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida). Haluaran urine : menurun, pekat.
             2.1.5         Makanan dan cairan
         Gejala : Anoreksia, mual, muntah, (muntah yang memanjang diduga obstruksi pilorik, bagian luar yang berhubungan dengan luka duodenal). Cegukan nyeri ulu hati, sendawa, bau asam/muntah
                Tanda : Muntah, warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau tanpa bekuan darah. Membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa, turgor kulit buruk (perdarahan kronis).
             2.1.6         Neurosensi
              Gejala : Rasa berdenyut, pusing atau sakit kepala karna sinar, kelemahan. Tingkat kesadaran dapat terganggu, rentang dari agak cenderung tidur, disorientasi/bingung, samapi pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi atau oksigenasi).
              2.1.7         Nyeri/kenyamanan
             Gejala : Nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dpat disertai perforasi. Rasa ketidaknyamanan atau distress samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut). Nyeri epigastrum kiri samapai tengah atau menyebar kepunggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang hilang dengan antasida (ulusgaster). Nyeri epigastrum kiri sampai menyebar kepunggung terjadi ± 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal) tak ada nyeri (varisis esophageal ata gastritis).
                 Tanda  : Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat, perhatian menyempit.
              2.1.8         Keamanan
                Gejala     : Alergi terhadap obat atau sensitive, misalnya : ASA
                Tanda     : Peningkatan suhu, spisider angioma, eritema palmar (menunjukkan sirosis atau hipertensi portal)
              2.1.9         Penyuluhan/pembelajaran
            Gejala     : Adanya penggunaan obat resep atau dijual bebas  yang mengandung ASA, alcohol, steroid. NSAID menyebabkan perdarahan GI. Animea, trauma kepala, flu usus, episode muntah berat.
          2.2      Diagnosa Keperawatan
                  DX I      : Kekurangan volume cairan b/d perdarahan, mual, muntah dan anoreksia d/d pucat, berkeringat, gelisah, perubahan mental.
                K/H        : Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan dibuktikan oleh haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal, tanda vital stabil, membrane mukosa lembab dan turgor mukosa baik.

Intervensi
Rasional
Mandiri :
-          Catat karakteristik muntah/diare







-          Awasi tanda vital




-          Awasi masukan dan haluaran di hubungkan dengan perubahan berat badan. Ukur kehilangan darah/cairan melaui muntah, penghisapan gaster/lavase dan difekasi.
-          Pertahankan tirah baring, mencegah muntah dan tegangan pada defekasi. Jadwlkan aktifitas untuk memberikan periode istirahat tanpa gangguan.
-          Tinggikan kepala tempat tidur selama pemberian antasida.


Kolaborasi :
-          Berikan cairan/darah sesuai indikasi


-          Berikan obat sesuai indikasi, ranitidine (zantac), diatidine (acid).

-          Membantu dalam membedakan penyebab distress gaster. Kandungan empedu kuning kehijauan menunjukkan bahwa pilorus terbuka, kandunga pekal menunjukkan obstuksi usus, darah merah cerah manandakan adanya atau perdarahan arterial akut.

-          Perubahan tekanan darah dan nadi dapat digunakan perkiraan kasar kehilangan dara, misalnya : TD < > 110 diduga 25% penurunan volume atau ± 1000 ml.

-          Memberikan pedoman untuk penggantian cairan.



-          Aktivitas/muntah meningkatkan tekanan intra abdominal dan dapat mencetuskan perdarahan lanjut.

-          Mencegah reflex gaster pada aspirasi antasida diman dapat menyebabkan komplikasi paru serius.


-          Penggantian cairan tergantung pada derajat hivopolemia dan hanya perdarahan (akut atau kronis).
-          Penghambatan histamine H2 menurunkan histamine produksi gaster. Antasida (misalnya : ampojd, Maalox, Mylanta, piopan).
-          Dapat digunakan untuk mempertahankan pH gaster pada tingkat 4,5 atau lebih tinggi untuk menurunkan resiko perdarahan ulang. Antemetik (misalnya : metoklopramid/regtan. Proglorperazine/campacine.
-          Menghilangkan mual dan mencegah muntah.
 
 
                DX II  : Resiko tinggi kekurangan perpusi jaringan b/d hivopolimea d/d sakit kepala, pucat, berkeringat TD rendah.
              K/H     : Mempertahankan perkusi jarngan dengan bukti tanda vital stabil, nadi periver teraba.
Intervensi
Rasional
Mandiri :
-          Catat haluaran dan jenis berat urine



-          Catat laporan nyeri abdomen, khususnya tiba-tiba, nyeri hebat atau nyeri menyebar ke bahu.




-          Observasi kulit untuk pucat, kemerahan, pijat dengan minyak, ubah posisi dengan sering.

Kolaborasi :
-          Berikan oksigen tambah sesuai indikasi.

-          Berikan cairan IV sesuai indikasi.

-          Penurunan perfusi sistemik dapat menyebabkan iskemia/gagal ginjal, dimenifestasikan dengan penurunan keluaran urine.
-          Nyeri disebabkan oleh ulkus gaster sering hilang setelah perdarahan akut karena efek buffer darah, nyeri berat berlanjut  atau tiba-tiba dapat menunjukkan  iskemia sehubungan dengan terapi vasokinstriksi.

-          Gangguan pada sirkulasi perifer meningkatkan resiko kerusakan kulit.



-          Mengobati hifoksemia  dan asidosis laktat selam perdarahan akut.

-          Mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi.
    
                DX III   : Ansietas/ketakutan b/d perubahan status kesehatan, ancaman kematian d/d pasien gelisah.
                K/H       : Menunjukan rilek dan laporan terhadap ansietas menurun sampai tinggkat yang dapat di tanggani.
Intervensi
Rasional
Mandiri :
-          Awasi respons fisologis misal : Takipnea, palpitasi, pusing, sakit kpala, ensasi kesehatan.

-          Dorongan pernyataan takut dan ansietas, berikan ompan balik
-          Berikan informasi akurat



-          Berikan lingkungan tenang untuk istirahat



-          Dorong orang terdekat tinggal dengan pasien

-          Tunjukkan tehnik relaksasi



-          Dapat menjadi indikatif drajad takut yang di alami pasien tetapi dapat juga berhubungandengan kondisi pisik/ status sok.
-          Membuat hubungan trapeutik

-          Melibatkan pasien dalam rencana asuhan dan menurunkan dan ansietas yang tidak perlu tentang ketidaktahuan.
-          Memeindahkan pasien dari steresor luar meningkatkan relaksi, dapat meningkatkan keterampilan koping.


-          Membantu menurunkan takut melalui pengalaman menakutkan menjadi sorang diri
-          Belajar cara untuk rilek dapat membantu menurunkan takut dan ansietas

           DX IV : Nyeri ( Akut / kronis ) b/d luka bakar kimia pada mukosa lambung, rongga oral d/d pasien meringis.
                K/H   : Menyatakan nyeri hilang menunjukan postur tubuh rilek dan mampu tidur atau istirahat dengan tepat.

Intervensi
Rasional
Mandiri :
-          Catat keluhan nyeri ternasuk lokasi, lamanya, intensitas (0-10)





-          Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
-          Berikan makanan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien.




-          Bantu latihan rentang gerak aktif/pasif

-          Berikan perawatan oral  sering dan tindakan kenyamanan, misalnya : pijatan punggung, perubahan posisi


Kolaborasi :
-          Berikan obat sesuai indikasi, misalnya : antasida


-          Antikolinergic (misalnya : baladonna, atropia)

-          Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gelisah nyeri pasien sebelumnya diman dapat membantu mendiagnosa, etiologi perdarahan dan terjadinya konflikasi

-          Membantu dalam membuat diagnose dan kebutuhan terapi

-          Makan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster, makan sedikit mencegah distensi dan haluan gastria

-          Menurunkan kekakuan sendi, meminimalkan nyeri/ketidaknyamanan
-          Nafas bau karena tertahannya secret mulut menimbulkan tidak nafsu makan dan dapat menimbulkan mual


-          Menurunkan keasaman gaster dengan absorbs atau dengan menetralisir kimia

-          Diberikan pada waktu tidur untuk menurunkan notilitas gaster, menekan produksi asam, memperlambat kekosongan gaster dan menghilangkan nyeri rokturnal.
 
 
SMK MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

SMK MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU


 BAB II
TINJAUAN KASUS
I. Identitas Diri Pasien
Nama Tn . Z, umur 53 thn, laki- laki, sudah menikah, agama Islam, suku Jawa, pendidikan terakhir SMP, pekerjaan PNS, alamat Jl.Karya Bakti Sidomulyo Medan, sumber informasi pasien dan keluarga (istri) pendidikan terakhir SMEA pekerjaan sebagai ibu rumah tangga.
II. Status Kesehatan Saat Ini
Pasien mengatakan nyeri pada ulu hati, pasien tampak gelisah & memegang perutnya. Hal ini disebabkan karena makan-makanan yang pedas/merangsang, nyeri muncul setiap 5 menit sekali, untuk mengurangi nyeri yang muncul pasien istirahat/duduk. Karena keluhan bertambah keluarga membawa pasien ke RSU.Martha Friska Medan  . 
III. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Pasien tidak apakah pada masa kanak-kanaknya pernah mengalami penyakit, pada waktu ± 20 tahun yang lalu pasien pernah kecelakaan dan dirawat dirumah sakit, selama hidupnya pasien tidak pernah dioperasi. Pasien juga tidak ingat apakah pernah alergi dan imunisasi.
 Kebiasaan pasien ialah minum teh manis, nama obat yang diberikan dokter sudah tidak ingat dan lama konsumsi obatnya pasien juga tidak ingat. Pasien makan biasa 3x sehari, berat badan pasien 70 kg dan tinggi badan 163 cm, makanan yang disukai pasien adalah makanan yang pedas, nafsu makan pasien baik sehingga setiap 6 bulan berat badan pasien  bertambah 1 kg. Setiap BAB dalam 1 hari 1 x pada waktu pagi dengan warna kuning, konsistensi setangah padat. Sedangkan BAK dalam 1 hari 4 x dengan warna kuning bau amoniak.
Pasien istirahat tidur malam pada jam 22.00 - 04.00 Wib, sore 15.30 - 16.30 Wib, jadi lama tidur 1 hari  adalah 8 jam, pasien kesulitan dalam hal tidur.tidak ada aktivitas dalam kesehariannya, pekerjaan pasien sebagai PNS lama bekerja 30 tahun jumlah jam kerja 8 jam, jadwal kerja mulai dari 07.30 - 15.00 Wib.
 IV.Riwayat Keluarga
Genogram:
            : Pasien
            : Laki-laki
            : Perempuan
            : Meninggal
            : Satu rumah
 V.Riwayat Lingkungan
Lingkungan rumah kurang bersih, bahaya polusi tidak ada karena rumah pasien jauh dari jalan raya dan pabrik.
 VI.Aspek Fsikologi
Pasien tidak menggunakan kaca mata dan alat bantu pendengaran serta tidak ada kesulitan yang dialami seperti pusing, menurunnya sensitifitas terhadap sakit dan terhadap dingin/panas, dan membaca/menulis.

VII.Aspek Sosial

Pasien berbicara jelas, relevan, mampu mengekspresikan dan mengerti orang lain, bahasa utama pasien adalah Indonesia, bahasa daerah yang dipakai adalah Jawa, pasien tinggal dengan istri dan anak – anaknya, adat yang dianut dalam keluarga pasien adalah Jawa, pembuat keputusan adalah pasien  sendiri, pola komunikasi keluarga juga baik, ekonomi pasien memadai, kesulitan dalam keluarga tidak ada. Pemahaman pasien terhadap fungsi seksual baik terlihat karena sudah memiliki 3 orang anak,

VIII.Aspek Spiritual

Sumber kekuatan yaitu Tuhan yang maha esa, dan itu penting kaya pasien, kepercayaan yang di lakukan shalat frekuensinya tidak menentu, kegiatan agama yang dilakukan dirumah sakit tadak ada. Pada usia 53 tahun pasien ingin cepat sembuh dan berkumpul dengan keluarga.

IX.Pengkajian Fisik

Kepala : Bentuk bulat, rambut beruban, lurus.
Mata  : Ukuran pupil 2 mm, isokor kiri dan kanan, reaksi terhadap cahaya bagus terlihat kalau cahaya didekat kan mata, menjauh kalau jauh. Akomodasi baik, bantuk simetris kiri dan kanan, konjuntiva tidak anemis, fungsi pengelihatan baik, tanda-tanda radang tidak ada, operasi tidak ada kacamata tidak ada, lensa kontak tidak ada.
Hidung : Reaksi alergi tidak ada, cara mengatasinya tidak ada, pernah mengalami flu pernah, bagaimana frekensinya dalam setahun tidak ada, sinus tidak ada, perdarahan tidak ada.
Tenggorokan : Gigi geligi lengkap, kesulitan/ gangguan bicara tidak ada, kesulitan menelan tidak ada 


                         Pernafasan : Bentuk simetris, pergerakan simetris, pola nafas normal (16-20), nyeri tekan tidak ada, batuk tidak ada, spatum tidak ada, fremitus normal, nyeri tidak ada, suara paru bronchial I/E 1:2
                         Sirkulasi :Capillary refilling time 2 detik, distensi vena jugularis tidak ada pembesaran, suara jantung lub-dup, suara jantung tambahan tidak ada, nyeri dada tidak ada, edema tidak ada, palpitasi tidak ada, baal tidak ada, perubahan warna (kulit , kuku, bibir ) tidak ada, clubbing pinger  tidak ada, rasa pusing tidak ada.
                          Abdomen : Bentuk  simetris. Hepar tidak ada, masa/ cairan tidak ada, lien tidak ada.
                         Nutrisi      : Jenis diet MII, nafsu makan berkurang pasien hanya menghabiskan ½ porsi yang di sediakan, intek cairan 2000 cc output cairan 2500 cc.
                           Eliminasi   : BAB : pola rutin 1x / hari, penggunaan laxan tidak ada, colostomy tidak ada, illestomy tidak ada, konstipasi tidak ada, diare tidak ada,.
BAK: pola rutin 3x sehari, incontinensi tidak ada, infeksi tidak ada, hematuri tidak ada, chateter tidak ada, urin output 1000cc.
                            Produksi     : Pola rutin, perdarahan, payudara, pemeriksaan papsmear terakhir, hasil.  Keputihan, prostat, Tidak di kaji.
                         Neurologis : Tingkat kesadaran CM (composmentis ), orentasi baik pasien dapat mengenal orang, pola tingkah laku baik, riwayat epilefsy / kejang/ perkinson tidak ada, reflex baik.
                        Muskuloskletal : Pergerakan ekstremitas kurang karna terpasang infus pada bagian tangan kiri pasien, kekuatan otot kurang, nyeri tidak ada, kekuatan tidak ada, pola latihan gerak aktif dan pasif, pergerakan tubuh ada, mandi ada, mengenakan pakaian ada, bersolek ada, berhajat ada, sesak nafas stelah aktipitas tidak ada, mudah merasa kelelahan ada.
                               Kulit                : Warna sawo mateng, integritas baik, turgor baik.
                           
                             X. Data Laboratorium Rutin
Darah
Urin
Tinja
Hb  = 11,5 gr %
Leukosit = 8,1 / mm3
LED = 35 mm / jam
Ht = 40 %
Warana = kuning
Reduksi = Negatif
Protein = negative
Bilerubin = negatif
Warna = kuning
Konsistensi= setengah padat
Eritrosit= 1-2 // pb
Leukosit = 0-1 // pb

XI. Hasil Pemeriksaan Diaknostik
·         KGD              :           138 mg /dl ( Normal  140 )
·         EKG              :           Normal sinus rhy + hm
Normal EKG
·         ELEKTROLIT : Natrium      : 139
Kalium         : 3,5
Clorida         : 104
 XII.Pengobatan
 * Infuse Rl 20 tts/i
 * Lansoprazol 2x3mg
 * Grohabion 50001x1
 * Diet M2
 *  M II
 * Infus Kaen 3A/3B 2Otts/i
 * Ranitidin 1 amp/inc
 * Ulsidex 3x1
 * Metolon 3x1
 * Alprazole 1x0,5g



                                                            ANALISA DATA
NO
DATA
INTERPRETASI DATA
MASALAH
1









2









3
DS.   Pasien mengatakan nyeri pada uluhati .
DO.pasien tampak memegangi perutnya
TD  :     120/80
RR  :     20X/M
TEMP: 36.5ºC
POLS :  80X/M

DS.  Pasien mengatakan badan lemas dan tidak selera makan dan mual
DO.  Pasien terlihat pucat ,tidak menghabiskan porsi yang disajikan

DS.  Pasien mengatakan tidak tahu tentang penyakit yang dialaminya
DO.  Pasien sering bertanya-tanya
Gastritis

Mukosa lambung teriritasi


nyeri





Gastritis

Mual dan anoreksia

Tidak adekuatnya kebutuhan nutrisi




Kurang informasi tantang penyakit yang dialaminya

Gangguan Rasa nyaman









Gangguan pola nutrisi









 Kurang pengetahuan

Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas masalah
      1.      Nyeri b/d mukosa lambung teriritasi d/d nyeri
      2.      Pola nutrisi b/d tidak adekuatnya kebutuhan nutrisi d/d lemas ,anoreksia , mual.
3.      Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakit d/d bertanya-tanya



RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama            :  Tn. Z                                                                                                                           Diagnosa Medis       :  Gatritis
Ruang           :  IV B                                                                                                                            No.Register                          :  ………
No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasionalisasi
I








II









III
Nyari b/d mukosa  lambung, teriritasi d/d memegang perut dan meringis





Pola nutrisi b/d tak ada kuatnya kebutuhan nutrisi d/d lemas, anoreksia, mual.






Kurang pengetahuan b/d kurang informasi penyakit d/d bertanya tanya.
Menghilangkan dan menurunkan nyeri







Meningkatkan masukan nutrisi adekuat








Pasien mengetahui tentang penyakit yang dideritanya
-      Kaji skala nyeri (0-10). Lokasi atau tempat nyeri dan lamanya nyeri.
-      Berikan posisi yang nyaman
-      Kaji ulang factor yang meningkatkan dan menghilangkan nyeri
-      Kolanborasi dalam pemberian obat.
-      Beri diet TKTP

-      Beritahu makan sedikit tapi sering
-      Beri dukungan fisik dan emosional
-      Kolaborasi dalam pemberian obat


-      Beri penjelasan dan proses perjalanan penyakit


-      Beri penkes diet sehat
-          Untuk mengetahui tingkat nyeri, lokasi dan lamanya

-          Agar rasa nyeri berkurang
-          Untuk mengetahui penyebab dan cara menurunkan nyeri

-          Agar nyeri berkurang dan hilang
-          Untuk memenuhi kebutuhan kalori dan protein
-          Agar perut tidak kosong

-          Agar pasien terpacu nafsu makannya




-          Agar pasien mengerti dan bias mengatasi agarpenyakitnya cepat sembuh dan tidak kambuh lagi
-          Agar pasien mengubah pola makan yang tidak sehat menjadi pola makan yang sehat



CATATAN PERKEMBANGAN
Nama Pasien               : Tn. Z
Ruang              :  ---
Tanggal
Diagnosa Keperawatan
Implementasi
Evaluasi (SOAP)
17 Februari 2010

DX : I

                        

                            







DX II








DX III
    -   Mengkaji skala nyeri tempat nyeri dan lamanya
Memberikan posisi yang nyaman, posisi semifowler
- Mengkaji ulang factor yang meningkatkan atau menghilangkan nyeri
-      Memberikan injeksi Ranitidine IV 1 ampul
-      Memberikan obat oral Ulsidex 3 x 1
  - Memberikan obat oral Lantoprazole 2 x 3
-      Memberikan diet TKTP
-      Memberikan pasien makan sedikit tapi sering
-      Memberikan dukungan fisik
-      Memberikan infuse KA EN 3A/3B 20 tts/I, 1 pus. setelah habis diganti dengan infuse RL 20 tts/I.
-      Memberikan obat oral Gronagion 500 gram 1 x 1
-      Memberikan penjelasan tentang penyakitnya
-      Memberikan penkes diet sehat
S : Pasien mengatakn nyeri masih ada
O : Skala nyeri sedang (4-7)
A : Masalah sebagian teratasi
P : lanjutkan intervensi





S :Pasien mengatakan tidak bisa makan dan mual, lemas
O : Porsi yang di sajikan tidak habis
A : Masalah sebagian teratasi
P : Lanjutkan intervensi

S : pasien mengatakn tidak tahu tentang penyakit yang di alaminya
O : sering bertanya-tanya
A : Masalah teratasi
P : Lanjutkan intervensi





DAFTAR PUSTAKA

  1.    Arjatmo, Tjokro Negoro, Ph. D, Sp, dkk, (2001), Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi III, FKUI, Jakarta.
  2.    Arif Mansjoer, (2001), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Edisi III, Aesculapius, FKUI, Jakarta.
  3.    Brunner & Suddarth, (1997), Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8.
  4.     http:///dez’s-block.com
  5.     http://Media-Perawat.com

SMK MUHAMMADIYAH KOTAMOBAGU

Send Quick Massage

Name

Email *

Message *

Pages